Selasa, 22 Oktober 2019

Koperasi dan Generasi Millenial: Collaboration Over Competition.



Apa yang pertama kali terfikirkan ketika mendengar kata “Koperasi”? Apakah koperasi simpan pinjam? Yang dulu selalu ditemukan di buku-buku pelajaran sekolah. Apakah koperasi sekolah? Tempat dimana membeli alat tulis yang biasanya terletak di sudut gedung sekolah. Atau yang lebih dekat dengan generasi millennial yaitu koperasi karyawan? Koperasi yang biasa ditemukan di kantor-kantor atau perusahaan.
Koperasi saat ini bukan hanya terletak  di desa-desa, sekolah, kantor atau perusahaan besar, dan koperasi yang banyak ditemukan di pasar-pasar. Dengan semakin canggihnya teknologi dan informasi saat ini, koperasi tidak bisa hanya mengandalkan metode tradisional saja dalam operasi bisnisnya. Sebagai bagian dari layanan keuangan, koperasi turut bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Teknologi dan keuangan dalam hal ini menjadi sebuah persimpangan yang dinamis antara jasa keuangan dan teknologi.
Kemudian belakangan ini muncul apa yang disebut dengan “Koperasi Digital”. Dengan  memanfaatkan teknologi digital, koperasi zaman now ini tentu memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan koperasi masih beroperasi dengan cara tradisional. Karena menggunakan konsep digital, maka koperasi-koperasi ini biasanya mengembangkan bisnisnya melalui pembentukan dan pengembangan platform, media sosial, dan mobile apps. Lebih jauh, layanan lain seperti pendaftaran bisa saja dilakukan secara online, pembayaran dilakukan dengan sistem transfer dan layanan digital lainnya. Dengan channel-channel yang dimiliki oleh setiap koperasi digital, sosialisasi produk dan layanan, edukasi mengenai koperasi dan bisnis, dan konsultasi dapat menjadi lebih mudah terlaksanakan. Sehingga, koperasi digital dapat menekan biaya operasional namun mendapatkan hasil yang maksimal.
Nilai-nilai dasar pada koperasi seperti, gotong royong dan kebersamaan sebenarnya sudah sangat selaras dengan model bisnis yang banyak dikembangkan oleh generasi millenial saat ini, yaitu model kolaborasi. Alih-alih melakukan persaingan antar pelaku bisnis, millennial justru membangun sebuah sebuah jembatan kolaborasi. Inilah slogan yang sering digunakan: Collaboration over competition.
Bagi anggota koperasi digital, tentu saja mendapatkan banyak keuntungan yang belum pernah didapatkan selama menjadi anggota koperasi tradisional. Koperasi dengan konsep digital ini sudah pasti bisa melebarkan peranannya dalam industri keuangan. Bukan hanya sebagai media simpan pinjam para anggota, namun juga sangat mungin untuk bertindak sebagai pusat layanan komoditas, mitra bisnis, bahkan beberapan peran dari digital banking. Koperasi digital juga dapat mengakomodir kebutuhan anggotanya seperti pembayaran tagihan rekening, transaksi pembayaran baik secara offline maupun online, atau pembelian saldo untuk payment pada aplikasi lainnya. Sebenarnya, masih banyak peran-peran penting dan strategis yang bisa diambil oleh koperasi digital untuk tetap mampu bertahan di persaingan bisnis pada industri financial technology atau yang dikenal dengan fintech.
Koperasi digital dengan kekuatan jumlah anggotanya bisa mengambil langkah sebagai Ecommerce atau marketplace untuk turut memasarkan produk-produk bisnis dari anggotanya. Dengan begitu, anggota koperasi akan sangat terbantu dalam pengembangan bisnisnya. Apalagi, dengan internet, jangkauan konsumen akan jauh lebih luas. Akibat teknologi ini, banyak start up yang muncul dengan jiwa-jiwa koperasi dan menjelma menjadi pasar baru yang menawarkan inovasi produk layanan yang sebelumnya telah disediakan oleh industri jasa keuanagn tradisional, seperti yang telah dijabarkan di atas. Hal ini bisa dikatakan, bahwa koperasi dapat mengambil kesempatan di jaman distrupsi ekonomi sekarang ini.
Menjadi digital bukanlah sebuah pilihan, namun sebuah keharusan. Saat menjadi digital, maka akan menarik lebih banyak masyarakat untuk menjadi anggota. Masih luas pasar yang menunggu untuk disentuh oleh koperasi. Selamat dan semangat menjadi digital, koperasi Indonesia!

Dengan tema besar “Koperasi Digital”, Multi Inti Sarana Group menggelar PRAJA 2019: Anugerah MIS Group Untuk Negeri. Kegiatan ini berisi kompetisi yang dapat diikuti oleh para jurnalis dan masyarakat umum, seperti kompetisi karya tulis jurnalistik, karya foto jurnalistik, karya video kreatif, karya tulis blog dan ide bisnis koperasi. Kegiatan ini antara lain sebagai bukti keseriusan MIS Group yang mengabdi dengan hati membangun negeri.


Minggu, 20 Oktober 2019

MANFAAT DOMINO SILA KETIGA: ZAKAT


Selama ini, sebagian umat Islam hanyalah melihat zakat sebagai sebuah kewajiban agama semata untuk memenuhi rangkaian rukun Islam. Padahal, apabila zakat dipahami dengan cara pandang yang lebih visioner, maka akan ditemukan peran zakat yang jauh lebih besar serta manfaat domino yang ditimbulkan bagi kemalahatan umat dan negara. Zakat bukanlah hanya perkara hubungan vertikal antara manusia dengan Allah (Hablumminallah), namun juga hubungan horizontal antar sesama manusia (Hablumminannas). Dengan adanya kedua hubungan ini, banyak yang mengatakan bahwa zakat merupakan ibadah yang unik.Dari sisi hubungan vertikal, Allah secara jelas menyebutkannya dalam surat at-Taubah ayat 103 yang berbunyi: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui”
Dengan berzakat, seseorang bukan hanya sekedar memenuhi kewajibannya akan tetapi dilimpahkan bonus-bonus lainnya seperti menyucikan harta dan jiwa. Beberapa ulama bahkan berpendapat bahwa zakat dapat dikatakan sebagai bukti atas kebenaran dan pengakuan seorang hamba dalam bertaubat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dikatakan bahwa: “Zakat fitrah merupakan penyucian orang yang berpuasa dari omongan sia-sia dan perbuatan dosa, serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin.”
Ketika seseorang berzakat, maka orang tersebut dianggap telah mampu menahan nafsu atas hartanya untuk mengurangi sifat konsumtif dan hedonisme. Selain itu, orang yang berzakat (Muzakki) sesungguhnya sedang membersihkan hatinya dari sifat kikir dan rakus. Sehingga, jika zakat dilakukan secara terus-menerus, zakat bisa menjadi sebuah kebiasaan yang semakin lama dapat membunuh virus-virus kikir, rakus dan kecintaan yang berlebih atas harta benda. Selain itu, berkurangnya harta secara nominal karena berzakat sebenarnya harta tersebut sedang Allah kembangkan dan tambahkan berkahnya.
Sedangkan dari sisi horizontal sesama manusia, manfaat zakat menembus hingga aspek-aspek pembangunan sosio-ekonomi, baik secara mikro maupun makro. Paling sederhana adalah interaksi sosial seorang Muzakki dengan si penerima zakat (Mustahiq). Dengan zakat akan terbentuk ikatan yang kuat antara orang kaya atau orang yang berzakat dengan masyarakat di sekitarnya yang menerima zakat menjadi lebih harmonis, saling mengasihi dan tercipta kenyamanan. Kondisi ini tentu saja dapat mengurangi kesenjangan sosial dan potensi kriminalitas. Mengapa demikian? Karena, zakat yang tersalurkan dari muzakki kepada mustahiq menjadi sebuah instrument distribusi kekayaan. Harta tidak hanya berputar pada orang kaya saja, namun juga manfaatnya dapat dirasakan oleh para mustahiq. Sehingga, mustahiq yang sebelumnya memiliki rasa iri dan dengki akibat keadaan yang serba kekurangan tidak memiliki alasan untuk melakukan tindakan kriminalitas seperti perampasan harta karena untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini dapat menjadi rantaian pertama zakat dari segi keadilan sosial (al-‘adallah al-ijtima’iyyah).

Zakat yang Produktif
Saat ini, istilah zakat produktif cukup popular di tengah-tengah masyarakat. Zakat produktif sendiri merupakan zakat yang disalurkan kepada individu atau kelompok usaha dalam bentuk antara lain, modal kerja, barang-barang produksi atau pembukaan lapangan pekerjaan. Tujuan dari zakat produktif ini yaitu agar para mustahiq dapat bekerja dan berusaha untuk mendapatkan penghasilan sehingga memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Labih jauh lagi, mustahiq dari zakat produktif ini pada akhirnya dapat berubah statusnya menjadi muzakki karena usaha yang dikembangkannya serta turut membuka lapangan kerja bagi orang lain atau mustahiq lainnya. Dengan demikian, mustahiq yang telah bertransformasi menjadi muzakki ikut membantu mengurangi permasalahan-permasalahan sosial.
Adanya zakat produktif ini berarti ikut meningkatkan proses produksi yang secara otomatis meningkatkan pula jumlah pajak yang dibayarkan kepada negara, baik berupa pajak perusahaan, pajak pertambahan nilai, maupun pajak penghasilan. Dengan penerimaan pajak yang bertambah, negara akan terbantu pula dalam penyediaan sarana dan prasarana untuk mempercepat pembangunan, antara lain penyediaan fasilitas umum untuk masyarakat.
Produktivitas dalam siklus zakat produktif ini juga berkaitan erat dengan modal, akses pasar, serta kualitas sumber daya manusia. Mustahiq yang telah menerima zakat produktif berupa tambahan modal usaha akan mampu menghasikan suatu produk atau jasa yang memiliki nilai tambah. Akan tetapi, usaha ini tidak boleh memiliki faktor bunga atau riba di dalamnya agar tidak membebani ongkos produksi. Sehingga mustahiq dapat memaksimalkan laba dan dananya untuk diputar kembali menjadi modal berikutnya. Zakat produktif ini dapat dimasukkan ke dalam kategori distribusi zakat dalam bentuk produk kreatif baik yang disalurkan dalam bentuk permodalan untuk membangun proyek social ataupun menambah modal pengusaha kecil.

Manfaat domino: Pendidikan dan Kesehatan
Aspek lain yang sangat mungkin untuk dijangkau oleh zakat yaitu, pendidikan dan kesehatan. Kedua hal ini tentu menjadi hak bagi setiap orang tanpa terkecuali. Pemenuhan hak pendidikan dan kesehatan ini sangat tergantung skala ekonomi dan tingkat kemiskinan. Zakat dapat menjadi salah satu instrumen untuk memecahkan masalah keduanya.
            Sebelumnya, zakat untuk pendidikan dan kesehatan mungkin belum banyak terdengar. Kebanyakan orang hanya tahu bahwa zakat haruslah disalurkan kepada delapan golongan ashnaf yaitu; fakir, miskin, amil, hamba sahaya, gharim, muallaf, fii sabilillah, dan ibnu sabil (musafir). Memang, zakat hanya boleh disalurkan kepada para mustahiq yang telah disebutkan. Akan tetapi, jika merujuk pada tujuan dasar dari zakat itu sendiri, yaitu untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial, maka zakat haruslah diberdayakan dengan upaya-upaya yang bersifat produktif, edukatif, serta ekonomis.
            Banyak lembaga zakat yang saat ini menyalurkan dana zakatnya kepada para mustahiq dalam bentuk dana pendidikan dan kesehatan. Hal ini dilakukan sebagai upaya efisiensi dan menghindari penyalahgunaan dana zakat oleh mustahiq jika diberikan berupa uang tunai. Lembaga-lembaga zakat juga lebih inovatif dengan menciptakan program-program beasiswa pendidikan untuk anak-anak dari keluarga yang kurang mampu atau keluarga yang termasuk mustahiq.
Sama halnya dengan pendidikan, kesehatan merupakan bagian dari kebutuhan hidup yang harus terpenuhi dan dipenuhi haknya. Biaya pendidikan dan kesehatan yang masih banyak belum terjangkau masyarakat miskin, menjadi masalah sosial yang harus diperhatikan oleh semua kalangan. Dengan dana zakat yang dialokasikan ke sektor-sektor ini menjadi sebuah metode altenatif baru tanpa harus keluar dari aturan-aturan syariat zakat. Zakat yang dialokasikan ke sector kesehatan bisa berupa dana pengobatan bagi masyarakat miskin atau dalam bentuk zakat produktf penambahan modal dalam pengembangan usaha dalam bidang kesehatan.
Allah memang membuat pakem yang jelas tentang siapa saja yang berhak untuk menerima zakat. Namun, Allah membiarkan hamba-Nya untuk senantiasa berfikir, bermusyawarah dan ijtihad dengan sungguh-sungguh tentang bagaimana zakat dikumpulkan, dikelola, serta disalurkan kepada para mustahiq. Termasuk beberapa ulama yang menafsirkan bahwa mereka yang bekerja untuk pengabdian kepada masyarakat sebagai tenaga pendidik atau tenaga kesehatan dan belum terpenuhi kesejahteraan hidupnya, layak untuk diberikan zakat. Mereka dimasukkan ke dalam kategori fii sabilillah, yaitu yang berjuang di jalan Allah.

Sinergi seluruh pihak
            Zakat yang sempurna tentunya dimulai dengan proses pengumpulan dana zakat dari orang-orang kaya, pengelolaan yang baik serta tersalurkan dengan tepat dan sesuai sasaran. Jika ini terlaksana dengan baik, maka seluruh tujuan zakat sebagai alat pengentas kemiskinan, pembangunan sosial ekonomi dan pembangunan negara secara keseluruhan akan terwujud. Sehingga diperlukan sinergi dari semua kalangan baik masyarakat, lembaga zakat atau sosial dan utamanya pihak pemerintah.
            Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim yang begitu banyak, pemerintah memang layak untuk menyatakan bahwa potensi zakat di Indonesia sangatlah besar. Meskipun, zakat yang terkumpul nyatanya jauh dari angka-angka potensi tersebut. Tentu saja, data yang terkumpulkan belum tentu seratus persen benar. Maka dari itu, untuk mencapai tujuan angka-angka tersebut, diperlukan data yang lebih menyeluruh agar mengetahui berapa banyak zakat yang masih mendekam dalam kantog-kantong orang kaya. Sehingga, selanjutnya dapat ditemukan solusi untuk pencapaian target tersebut.
            Pemerintah dalam hal ini memiliki pekerjaan rumah yang besar untuk mendata jumlah zakat yang terkumpul dari lembaga-lembaga zakat, platform-platform yang menyediakan jasa pembayaran zakat, masjid-masjid, serta institusi lain yang turut berinisiatif mengumpulkan dana zakat. Himbauan yang diberikan pemerintah sebaiknya bukanlah berupa larangan, namun kewajiban untuk pelaporan pengumpul zakat kepada pemerintah daerah yang selanjutnya diteruskan ke pemerintah pusat. Masalah sosial dapat dikurangi tidak melalui persaingan, namun dengan sinergitas.
            Benar memang apa yang diceritakan oleh Cak Nun dalam tulisanya. Rukun Islam itu sama dengan pancasila. Sila ketiga adalah zakat. Jika organisasi-oraganisasi masyarakat dan terutama pemerintah bersatu untuk mewujudkan niat baiknya dalam membangun negara, maka janganlah bersaing untuk kepentingan, jangan menang-menangan satu sama lain, dan jangan mementingkan golongannya masing-masing untuk berkuasa. Apabila sila ketiga sudah terpenuhi, maka akan terpenuhi pula sila keempat. Pada akhirnya, tercapailah cita-cita kita pada sila kelima: KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA.
            Mengenai literasi mengenai zakat dan wakaf, baik berupa Undang-undang, peraturan, dan berita terbaru mengenai pengembangannya, dapat diakses melalui website bimas Islam dari kementerian Agama RI dan website Literasi Zakat dan Wakaf dalam upayanya untuk mendukung dan menyajikan literasi mengenai zakat dan wakaf bagi masyarakat.

Senin, 19 September 2016

Aku tak pernah mengeluh. Kecuali tentang kamu.

Aku tak pernah mengeluh. Kecuali tentang kamu.

Tentang kamu yang pernah melukiskan pelangi tanpa hujan.

Tentang kamu yang menjadi syair terdendang setiap hari.

Tentang kamu yang sengaja mengetuk, ucapkan salam sembari membawa buah tangan, lalu aku persilahkan duduk.

Kamu tidak perlu menjadi tamu, untuk kusajikan kudapan dan kopi, bicara sebentar lalu pergi.
Atau menjadi seorang kurir, pengantar barang tanpa pengirim, meminta tanda tangan, kemudian bergerak ke rumah lainnya.

Bisakah kamu kembali? Ke rumah yang tadi. Disana masih ada aku berdiri di balik pagar.
Atau jangan-jangan kamu lupa. Lupa ada yang tertinggal masih tergenggam.

Aku tak pernah mengeluh. Kecuali tentang kamu.

Tentang kamu yang setiap harinya kuceritarakan pada semesta.
Sejak hari itu.
Sejak kau mengetuk pintu

Pamulang, 19 September 2016.
Sehabis langit meringis hingga menangis.

Selasa, 02 Februari 2016

Datanglah tepat waktu

Untuk kantuk yang suka datang tidak tepat waktu.


Kita ini sering tidak sepadan. Aku mau tidur, kau tak kunjung datang.


Datanglah saat jam 10 malam. Aku butuh bangun setengah jam sebelum adzan berkumandang.
Datanglah saat aku lelah. Karena pergi seharian.
Datanglah saat jam istirahat siang. Aku butuh tidur meski hanya 10 menit.
Datanglah di saat yang tepat, jangan tiba-tiba ataupun terlambat.


Saat pagi, harusnya kau sudah pergi, tapi malah betah nempel di muka bantalku. Aku terpaksa mengusirmu, tapi tetap saja kau selalu yang berkuasa.
Jangan datang saat aku sedang sibuk dengan hobiku, kalau kau tak mau kucaci maki.
Jangan datang saat aku sendiri dalam mobil. Niat sekali kau membunuhku sadis.
Jangan datang saat aku bertemu Tuhanku. Pasti itu perintah setan.
Jangan datang saat aku baca buku. Bisakah kau biarkan aku sedikit lebih pintar?
Jangan datang saat aku selesai makan. Kau penyebab terbesar tubuhku yang sekarang gempal.
Jangan datang saat aku nonton tv. Bisa-bisa malah aku yang ditonton tv.
Jangan datang sekarang! Suratku belum selesai.


Jadilah sebuah rasa yang professional. Yang datang dengan permisi, pamit saat pergi.



aku tahhhhu kau mmulai datang  ..

Senin, 01 Februari 2016

Bisa, kan?

Kepada cinta yang belum bertemu...


Jika nanti kita bertemu, bisakah kita saling berdiam? Beberapa detik saja, membiarkan waktu menikmati kegirangannya atas hasil jerih payahnya selama ini.
Jika nanti kita bertemu, bisakah kita saling bertatap? Tanpa kata, tanpa suara. Membiarkan jantung sibuk menata detaknya yang mulai tak beraturan, tidak karuan.
Jika nanti kita bertemu, bisakah kita kemudian saling melempar senyum? Tanpa harus tertawa terbahak. Membiarkan aroma tubuhku dan tubuhmu saling mengenal, kemudian menyatu, akrab.

Jika nanti kita bertemu, berhasil berdiam, bertatap dan saling melempar senyum. Bolehkan kita mulai bicara? Tanpa topik dan teori. Biar saja kata-kata absurd, random atau konyol menjadi terdengar lebih manis dan romantis.

Saat kita bicara, mungkinkah kita lupakan sejenak, bagaimana lelahnya mencari dan menunggu, bagaimana susahnya mengumpulkan rasa sabar, bagaiman repotnya menutup telinga rapat-rapat dari bisingnya polusi omongan orang.

Bukankah kita sudah disini, bertemu, dan suatu saat akan menjadi "kembali"? Yang tanpa sengaja membuat daun-daun cemburu dan burung-burung yang mencoba menggoda. Bahkan gerimis malu mengganggu.


Sayang...
Jika nanti kita bertemu, bisakah kau katakan,
"Antarkan aku pada ayahmu. Aku ingin menculik putri sulungnya dengan cara yang paling santun".

Minggu, 31 Januari 2016

SURAT SUKA

Kepada kamu yang sedang mungkin sedang mengatur nafas pelan-pelan. Suruh siapa berlari-lari di fikiranku siang dan malam, pagi dan sore. Eh, maaf aku gombal. Kamu sudah makan?


Bisa bicara sebentar? Ada gumpalan tanya yang (sepertinya) perlu kamu jawab.
Siap?

Apa rasanya menjadi orang yang namanya kusebut setiap hari? Lebih dari lima kali sehari. Tersedakkah? Aku harap tidak. Karena kalau iya, aku pasti khawatir setengah mati.
Bagaimana rasanya kenal aku? Manusia yang sok peduli. Tapi sungguh, aku betul-betul peduli.
Sudahkah kamu dengar angin membisikimu, "Dapet salam dan rindu"?. Asal kamu tahu, itu dari aku dan atas perintahku.
Kalau suatu hari nanti, saat aku benar-benar berani, saat hilang semua rasa malu, saat tekad sudah kubentuk menjadi bulat sempurna, saat kata "suka" itu meluncur tanpa roda, menghembus tanpa suara. Apa reaksimu?

Aku suka kamu. Seperti sukanya ulat kepada pucuk daun teh.
Aku suka kamu. Seperti sukanya pagi kepada embun.
Aku suka kamu. Seperti sukanya malam kepada bulan.
Aku suka kamu. Kamu yang seperti kamu. Tanpa perlu jadi setampan Liam Hemsworth. Tanpa harus sejenius Bapak B.J Habibi. Tanpa mesti jadi sekaya Mark Zuckerberg.
Aku suka kamu.


Sudah sesuka itu aku padamu.
Lalu, bisakah kamu percaya?

Jumat, 29 Januari 2016

Mau Langsing

Kepada Engkau yang (mungkin) sedang menertawakanku, atau hanya tersenyum, geli.
Kepada Engkau yang (mungkin) saat ini sedang berkata, "Tak perlu kau kirim surat neng, apalagi sampai dipublikasikan. Itu sungguh-sungguh tak perlu".
Kepada Engkau yang sebenarnya sudah tahu apa saja isi surat ini, bahkan sebelum huruf-huruf terbentuk menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi do'a.
Kepada Engkau yang ada dan selalu ada, sambil menontonku menulis surat, mendengar setiap kata. Dan aku, malu. Sungguh-sungguh malu.
Kepada Engkau, yang sampai kapanpun tak terbayangkan. Walau aku percaya, Engkau pasti ada.


Aku mungkin akan menuliskan hal konyol, tapi percayalah ini serius, tidak bercanda.


Tuhan, aku mau langsing. Tanpa harus diet enggak makan gorengan dan es cendol. Tanpa harus lari keliling komplek setiap pagi. Tidak mesti seperti Miranda Kerr atau Atiqah Hasiholan. Apalagi macam model-model Victoria Secret. Cukuplah badan ini cukup untuk dipakaikan kembali dress-dress lucu punyaku yang dulu. Atau minimal, cukuplah supaya orang-orang tak ada lagi yang bilang, "Kamu sehat banget kayanya", "Kamu bahagia ya sekarang". Dan jawabanku untuk mereka adalah, "Ya. Aku sehat wal'afiat. Lahir dan batin.", "Yaiyalah aku bahagia. Dunia dan akhirat".

Aku mau langsing. Biar rasanya tidak alergi melihat timbangan di kolong lemari. Biar angka-angka besar di timbangan tidak rebutan untuk unjuk gigi saat aku naiki. Biar proses timbang-menimbang tidak seperti proses lelang. Makin membesar, kemudian berhenti sampai yang berani paling besar. Ah, besar.

Aku mau langsing. Agar saat foto tak perlu sibuk atur posisi badan. Agar saat selfie tak usah berpura-pura meniruskan pipi. Agar aplikasi edit foto itu tak terlihat menarik bagiku.

Aku mau langsing. Dengan caraku sendiri. Tak usah menahan makan martabak dan bakso.
Aku mau langsing. Tahun ini. Mulai bulan ini juga boleh.
Aku mau langsing. Dengan do'a yang kuucapkan tanpa habis.

Aku mau langsing. Boleh kan ya Tuhan...?

Sabtu, 31 Januari 2015

Senja Hari Ini

Apa kabar kamu? Semoga duniamu lebih indah dan menyenangkan. Walaupun kutahu, kamu sedang berjuang. Entah berjuang untuk siapa. Meski belakangan kuyakini, untuk bidadari dunia akhiratmu (katamu di status facebook).

Aku hanya ingin sedikit bercerita. Entah kekagumanku dimulai sejak kapan dan dari mana. Ya, kekagumanku kepadamu. Ah, jangan kaget. Karena ekspresi kagetmu akan membuatku mundur jauh, menunduk. Malu.

Mungkin benar apa yang dibilang Ed Sheeran. "I'm thinking bout how people fall in love in mysterious ways". Kufikir ini benar-benar misterius. Bagaimana aku bisa jatuh cinta dengan teman sepermainan? Bagaimana aku bisa menyukai kamu, padahal kita sering tak sependapat dalam banyak hal?

Kalau kata orang diam itu emas. Lalu, bagaimana denganku yang mencintaimu diam-diam hampir dua tahun belakangan? Tak perlu lagi kamu memberikanku mahar berupa emas saat melamarku nanti. Aku sudah punya banyak. Kutabung dengan metode diam-diam.

Baiklah, jangan kamu hiraukan paragraf yang baru saja kutulis. Meski sebenarnya itu inti dari ceritaku.

Aku tak terlalu banyak mempunyai perbendaharaan kata untuk bilang, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Benar kan kalau jatuh cinta itu kita akan tersenyum 25 jam hanya karena mampirnya tanda 'jempol' di facebook atau 'love' di path di status kita? Benar kan kalau jatuh cinta itu kita sering meringis cemburu hanya karena ada orang lain yang terlihat lebih akrab? Kuulangi, aku betul-betul jatuh cinta. Meski dalam diam, yang tak terlihat, terkadang samar. Sekali lagi, aku jatuh cinta, kepada kamu. Meski dalam diam, tapi percayalah namamu tak bosan kulaporkan pada Tuhan.

Senja hari ini, kepada kamu yang namanya tak kuasa kugoreskan.


- irha -

Jumat, 30 Januari 2015

Hey, kamu!!! MOVE ON!!!

Hey, kamu!!! Perempuan sok romantis nan melankolis.
Kenapa waktu sekolah TK dulu susah bedain mana baca puisi, mana baca pidato? Memalukan.

Hey, kamu!!! Perempuan yang sebentar lagi 24 tahun.
Masih ingat waktu kelas 5 SD bohong sama guru ngaku mengerjakan PR di rumah, padahal kerjainnya di sekolah? Minta maaf sama gurunya udah belum?

Hey, kamu!!! Perempuan yang berulang kali diet tapi masih enggak kuat kalau liat risol.
Tega banget sih saat teman-temanmu yang sudah menyiapkan telur, terigu, air di botol-botol buat kasih kejutan di ulang tahun ke-12, tapi kamu malahan minta dijemput lebih dulu sama ayahmu. Bilang maaf sama mereka, sudah?

Hey, kamu!!! Perempuan hobi pramuka yang kalau selfie masih sering pakai camera 360.
Apa sih yang membuat nilai aljabar dan aritmatikamu jarang di atas 6? Jangan malas!

Hey, kamu!!! Perempuan yang mengaku lebih cantik dari pacarnya mantanmu.
Menyesal pernah melepaskan orang kesayangan begitu saja? Bertahan di atas kebohongan-kebohongan manis? Menangisi sesuatu yang sebenarnya membuang waktu? Menyesalkah?

Hey, kamu!!! Perempuan yang setengah mati menghindari pertanyaan "kapan nikah?", "pacarnya mana?" Di hampir setiap acara keluarga.
Percuma kamu simpan dan catat berulang kali setiap kata-kata bijak. Percuma kamu bermimpi di luar batas angan. Percuma kamu menasihati orang lain. Percuma kalau kamu masih duduk disana dengan tidak ada kemajuan. Ketika orang lain berlari, mengapa kamu hanya merangkak? Bergerak. Mimpimu, jodohmu, bahagiamu, menanti untuk dikejar.

Hey, kamu!!! Perempuan yang sedang menulis surat ini.
Apa enggak malu menulis surat untuk diri sendiri? Apa enggak aneh mengomeli diri sendiri? Sudah, cepat sana! Bergerak walau perlahan. Jangan lupa, minta restu ayah ibu. Semoga berhasil!!

Jumat, 30 Mei 2014

Siapa Tau...

Saya menulis ini di dalam busway transJ di Jakarta. Meniru J.K Rowling yang mendapat inspirasi tentang serial Harry Potter di kereta di London. Mungkin tulisan saya tidak akan melegenda seperti punya tante Rowling. Tapi, siapa tau ini bisa jadi pintu meluluskan saya menggapai cita-cita saya... ke Inggris. Itu sudah lebih dari cukup. Siapa tahu, bukan?

Siapa tau, saya berkunjung ke sana menengok salah satu negara Eropa yang paling berpengaruh di dunia. Negara dengan liga sepak bola paling keren di jagat raya, negara dengan penerbitan buku lebih dari 200.000 buku pertahunnya, negara tempat Harry Potter, Hermione dan Ron Weasley menjadi sahabat, negara asal lelaki paling romantis William Shakespeare, negara dimana Vivienne Westwood berasal, negara dengan kampus paling populer Oxford dan Cambridge.

Siapa tau, saya bisa menginjakkan kaki di Westminster Abbey dan Buckingham Palace, bangunan kuno peninggalan masa lalu.

Siapa tau, saya bisa berpose di samping Beefeater. Prajurit penjaga menara London berseragam merah dengan rambut gimbal ke atas. Sambil bertanya, "sudah berapa banyak manusia norak seperti saya yang berpose di sampingmu sepanjang hari ini?"

Siapa tau, saya berkesempatan naik bus tingkat merah kebanggan London. Atau sekedar merasakan bagaimana rasanya masuk ke kotak telepon umum paling hits di dunia.

Siapa tau, saya bisa bernafas puas sambil memandangi big ben atau London Eye. Kemudian sekedar datang sejenak ke Trafalgar Square, tempat dimana sempat diadakan acara Hallo Indonesia.

Siapa tau, saya akan berdiri sejengkal dari platform 9 3/4 di Kings Cross Station. Peron yang diharapkan nyata oleh hampir semua orang.

Siapa tau, saya akan membuat iri para fans Chelsea, Arsenal dan Tottenham Hotspur ketika akhirnya saya berhasil berdiri di atas tanah Stamford Bridge, Emirates Stadium dan White Hart Lane.

Siapa tau, paling untung saya bisa bertemu keluarga kerajaan walau untuk melihatnya saya harus berlari hingga berkeringat.

Siapa tau, saya bisa membuat para fans MU dan Manchester City sinis ketika tau saya asik berkelana ke tempat impian mereka. Old Trafford dan Etihad Stadium.

Siapa tau, saya bisa melipir sejenak ke Salford University. Salah satu kampus idaman.

Siapa tau, saya terdampar manis di Beatles Museum di Liverpool. Berpose, belajar atau sekedar tersenyum-senyum kesenangan.

Siapa tau, akhirnya saya sampai pada tujuan paling diidam-idamkan. Ke ANFIELD! Atau mungkin saya akan teriak kegirangan, update di media sosial sana sini, pose di segala sudut, belanja, menyimpan sehelai saja rumput Anfield, menyentuh tulisan sakral "This is Anfield". Layaknya para pemain, manager atau official Liverpool sesaat sebelum pertandingan. Memakai jersey kebangsaan bersamaan ribuan manusia yang memaknai benar arti "You'll Never Walk Alone".

Siapa tau, saya akan gugup tak bisa bicara saat benar-benar bertemu para pemain yang selama ini hanya melihat dari layar kaca berjarak milliaran mill.

Siapa tau, saya akan susah payah mengatur nafas saat bertemu Steven Gerrard. Kapten kesayangan yang selama ini hanya saya mampu saya mention lewat twitter. Yang selama ini saya kagumi termasuk dengan logat scouse nya yang setengah mati kupahami.

Siapa tau, saya akan menganga melihat The Mystical Healing Ground, Stonehenge. Bangunan menakjubkan yang menurut saya tidak masuk akal.

Siapa tau, saya bisa bertemu Westlife yang mungkin sedang mampir di Inggris, bersalaman dengan si Mr. Bean yang lagi ngopi di pinggiran kota atau si Cantik Lana del Ray. Atau.... terlalu banyak yang belum dikeluarkan hal-hal berbau Inggris di brankan selaput otak saya.

Siapa tau, saya berhasil menjadi makhluk bumi yang beruntung pergi ke Inggris Gratis selama 7 hari.

Siapa tau.

Siapa tau.

Siapa tau. Tulisan ini mampir dan terus-terusan bersarang di otak para juri.

Siapa tau, saya berjodoh dengan Inggris.

Kamis, 27 Februari 2014

Selamat Ulang Tahun

Assalamualaikum...

Jangan panik, jangan heran, jangan takut, jangan bingung dan jangan marah. Aku hanya minta waktu kamu sebentar saja untuk baca surat ini. Gak sampai lima menit, meski mungkin sedikit panjang. Tenang saja, ini bukan surat balas dendam, surat marah-marah, surat tagihan janji-janji kamu sama aku (i don't care about your promises and i know you forgeted these all), dan ini juga bukan surat permohonan supaya kamu putuskan pacarmu yang sekarang dan kembali kepadaku lagi.

I just wanna say, happy birthday to you. All beautiful wishes for you. Tenang saja, doaku ini tulus (sejak kapan aku tidak tulus mendoakan orang lain) tanpa imbalan. Tapi tidak seperti lima tahun lalu (kalau aku tidak salah), doaku ini hanya doa tanpa puisi. Hanya doa tanpa air mata yang kupinta setiap selesai sholatku. Dan tentu saja, doaku ini tulus meski tak ada hadiah yang kukirimkan untukmu.

Rasanya basi ketika aku harus mengirimu surat lagi. Hal yang pernah kita lakukan dalam kurun waktu kurang lebih 6 bulan di masa itu. Harusnya ini tak pernah kulakukan lagi. But because i blocked your facebook, blocked your twitter, deleted your phone number, deleted your bbm and trying to avoid you by direct communication. Jadi, ya mungkin harus aku tulis surat ini untuk sekedar bertanya kabarmu dan ucapan selamat ulang tahun. Aku lakukan itu semua bukan karena aku takut sakit hati (aku bahkan sudah lelah dan enggan sakit hati), bukan karena aku masih punya harapan terhadapmu (menurutku itu sama sekali tidak perlu) tapi karena hanya agar aku bisa menahan diri untuk tidak memakimu, membencimu setengah mati, bahkan menjelek-jelekkanmu.

Maaf, kalau kamu resah dengan surat ini. Kamu tidak perlu membalasnya kalau kamu merasa tidak perlu. Suratku ini isinya ucapan selamat ulang tahun yang kutujukan untukmu untuk tahun-tahun berikutnya. Jadi, tahun depan mungkin aku tidak perlu memberi ucapan itu lagi (even i know, you don't need and care about this letter).

Aku harap kamu tidak risih dengan surat ini. Kalau kamu risih, mungkin ini kerisihan terakhir yang kutimbulkan. Kalau kamu marah, kemarahanmu hanya sebentar, karena esok-esok aku tidak akan penyebab kemarahanmu. Meski harusnya aku yang memarahimu mati-matian. Tapi, ya sudahlah. Toh aku marah atau tidak, aku membencimu atau tidak dan apapun yang kulakukan tidak akan pernah merubah yang pernah terjadi.

Aku menulis surat ini saat hujan deras turun. Sendu? Tidak. Karena kita tidak pernah memiliki kenangan bersama hujan. Kejarlah cita-citamu, sejauh apapun kamu berlari. Sekali lagi, selamat tanggal 27 Februari untuk yang ke 22 kalinya.

"Health makes all things possible, wealth makes all things work, love makes all things beautiful. May you have al, three in your new age" (maaf, kucontek smsmu di malam tahun baru 2008).

HAPPY BIRTHDAY!!

Irha

Selasa, 18 Februari 2014

Surat Ngebuuuuuuut!!!

Kepada kak Ika yang hari ini pasti banyak dapat surat ajakan kencan...

Surat ini bikinnya ngebut ka. Maaf, tadi aku langsung buka blog. Ah, ka Ika, semoga surat ini sampai tepat waktu dan tidak telat.

Ka, kata orang-orang naik agya asik ya? Pasti akan lebih asik kalau naik bareng kakak. Tak perlu jauh-jauh, tak perlu mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera (kelewatan nyanyi). Kalau kita menikmati perjalanan, dengan siapa dan naik apa pasti lebih menyenangkan. Kakak, kita gantian nyetir deh? Gimana? Tapi aku baru bisa 2 minggu ini bawa mobil. Heheee.....

Ka, jadi kita mau kemana nih? Keliling kota? Ah, kemana pun tak akan aku sesali. Kakak, mungkin kakak akan lebih memilih kencan naik agya dengan orang yang lebih jago nyetir. Tenang ka, sisa waktu beberapa hari ini aku akan belajar mobil mati-matian biar lancaaaaaaaaaaaar........

Aduh ka, waktuku mau habis. Sempatkan baca suratku. Percayakan kencan denganku. Akan kubawa kakak ke tempat yang tak terlupakan seumur hidup. Hihiiiii......

Nb: Kalau kita jadi jalan-jalan nanti, aku siapkan bekal super enak.
Tapi jangan ajak aku ngebut ka, aku masih jomblo. :p

Terima Kasih

Kepada Qosim, adik guruku...

Qosim, masih ingat kakak? Kita bertemu sekitar tiga tahun lalu di Pesantren Ramadhan 1000 Anak Jalanan. Tepatnya di pelataran masjid At-Tin Jakarta Timur. Kakak jadi pendampingmu dan teman-temanmu. Ah, tapi kakak lupa siapa saja nama mereka. Ada satu yang kakak ingat selain kamu, namanya Aji. Maaf, kakak ini memang pelupa.

Qosim, kamu masih membantu ibumu? Kamu pernah cerita, kamu selalu membantu ibumu mengupas kerang di pasar. Hasil upah dari itu hanya sebesar 6000-10000 perhari. Kakak fikir, untuk kakak uang segitu mana cukup untuk bertahan hidup seharian?? Tapi mungkin kakak ini yang kurang bersyukur. Tapi ibumu sungguh hebat dik, bisa mengatur uang yang sungguh hanya sedikit. Mungkin ada tambahan uang dari bapakmu yang bekerja serabutan juga?? Ah, tapi itu kan hanya saat bapakmu dapat kerjaan.

Qosim, rasanya kakak ini malu. Malu sama kamu. Kakak masih suka bingung pilih baju ketika mau pergi, padahal baju itu menumpuk di lemari. Sedangkan kamu, bajumu itu-itu saja. Baju koko warna krem yang terkadang lusuh. Kakak masih merasa tersentil ketika kamu dengan senang hati dan girang tak karuan saat mendapatkan handuk kecil gratis, sikat gigi, odol dan sebatang sabun mandi untuk kegiatanmu di acara itu. Kakak masih jauh dari hati yang tulus saat kakak lihat kamu selalu tersenyum, jahil, susah dibangunin tidur namun riang gembira. Padahal hidupmu jauh dari kata cukup. Kakak? Masih sering galau dan mengeluh untuk hal-hal yang sepele.

Kakak selalu ingat kata ibu yayasan, bahwa setiap anak itu memiliki kebutuhan yang sama, yang berbeda hanyalah apa yang mereka dapatkan. Sayang, sesungguhnya kamu jauh lebih mendapatkan apa yang anak-anak lain dapatkan. Kamu mendapatkan pelajaran hidup yang luar biasa.

Qosim, kalau suatu saat kita bertemu. Di jalanan (mungkin kamu ikut mengamen bersama teman-temanmu), di pasar, atau bertemu lagi saat ramadhan nanti, ingatkan kakak untuk selalu bersyukur, ingatkan kakak bahwa hidup bukan tentang siapa kita, ingatkan kakak kalau kamu adalah adik yang pernah kakak dampingi. Bukan kakak lupa, hanya takut kamu tumbuh terlalu cepat. Tetap sekolah Qosim, tetap membantu bapak dan ibumu, tetap menjadi guru cilik untuk kakak. Guru yang mengajarkan bahwa kita sebenarnya tidak punya apa-apa. Semuanya hanyalah titipan Tuhan yang suatu saat akan diambil olehnya.

Terima kasih Qosim, untuk 5 hari yang super dahsyat.

Tertanda,
Semoga kamu jadi anak yang sholeh. Amiiin...

Minggu, 16 Februari 2014

Cinta Monyet Bukan Main-Main

Untuk Yang Ada Di Depanku Sambil Menyeruput Es Kelapa

Hallo, sebentar saja hentikan minum es kelapa dan baca suratku!
Ini ada sedikit curahan dan kejujuran hati..


"Bodoh. Iya kamu. Bukan aku yang bodoh. Pura-pura tidak lihat, atau memang tidak mau tahu? Padahal aku sudah pura-pura tersungkur di pinggir lapangan. Supaya kamu yang lagi istirahat habis main bola itu mau menolongku yang jatuh. Tapi, kamu malah pergi membasahi mukamu di keran sekolah sedangkan aku hanya menatap rok merahku yang kotor. Aku tidak tahu harus gimana untuk mendapatkan perhatianmu. Pura-pura tersungkur, sudah. Membagi bekal makanku buatmu, sudah. Cium tangan mamamu saat menjemputmu, juga sudah. Tapi kamu? Hanya namaku yang kamu ingat. Eh, tapi ada lagi yang kamu ingat tentangku, kamu tahu kalau tas pink gambar Minnie Mouse itu punyaku. Ah, aku senang sekali.


Kamu tahu enggak, semenjak kamu mengenaliku hanya dengan tas pink itu, aku merengek sama ayah untuk minta dibelikan tas yang sama persis untuk kedua kalinya. Tas itu tidak pernah kuletakkan di atas lantai. Selalu saja bertengger di atas kasurku. Fikirku, nanti tas itu warna pink-nya bisa memudar. Terkadang, saat istirahat sekolah dimana tak ada satu anakpun di kelas, aku berjalan ke arah bangkumu. Menyandingkan tas Minnie Mouse pink milikku dengan tas Power Ranger hitam punyamu. Cocok. Tuh kan, hanya tas saja jodoh, apalagi....


Aku pernah bilang sama bunda, aku menyukaimu. Tapi kata bunda, masih kecil tidak boleh pacaran. Ih, siapa yang mau pacaran. Aku hanya bahagia mencintamu. Sampai sekarang. Sampai kita tak perlu seragam lagi untuk pergi belajar. Sampai kita mempunyai guru yang dipanggil dosen. Sekarang, kamu lebih kenal aku kan? Perempuan yang selalu ada di satu gedung saat putih merah, putih biru dan putih abu-abu. Perempuan yang sekarang di hadapan kamu dengan celana jeans juga t-shirt pink dan kamu biasanya panggil aku “sayang”. Cintaku tidak pernah main-main kan?"


Selesai baca surat ini, habiskan dulu es kelapamu, baru boleh komentar.

Tertuduk malu,

Sayang

nb:

Sabtu, 15 Februari 2014

Yang tak tahu dimana

Assalamualaikum bunda...

Apa bunda masih ingat jawaban salam itu? Hehee..

Bunda apa kabar? Saat aku tulis surat ini, aku lagi kangen sekangen-kangennya sama bunda, papah, adek aisyah dan adek fatimah. Bun, kangen mereka juga enggak? Tapi mereka pasti sudah sangat-sangat bahagia disana.

Bunda, sebentar lagi aku lulus sekolah. Di sekolahku yang dinamakan pesantren ini, aku harus selalu pakai jilbab. Alhamdulillah, sekarang aku juga sudah berjilbab. Mudah-mudahan aku enggak kalah cantik sama bunda walaupun berjilbab.

Bunda, aku minta maaf ya waktu bude tanya sama aku, apa aku mau ikut bude atau ikut bunda. Kata bude, kalau aku ikut bude aku harus rajin sholat dan mengaji. Saat itu entah mengapa aku memilih untuk ikut bude. Bukan karena aku tidak sayang bunda, bukan karena aku tidak mau tinggal sama bunda. Mana ada anak perempuan yang tidak senang punya bunda cantiknya seperti model-model di tv. Heheee.. Tapi mungkin waktu itu, aku sudah terbiasa diajarkan sholat dan mengaji, jadi itu membuatku nyaman.

Bunda, nanti kalau ada perpisahan di pesantrenku, bunda datang ya.. Kutitipkan undangan khusus untuk bunda. Semoga bude memberi izin untuk bunda datang di hari kebangganku. Sepulang dari sana, kita sama-sama ke makam papah, aisyah dan fatimah. Lagi-lagi kalau bude memberi izin. Maafkan bude ya bun, yang suka overprotective. Bude baik kok bun, cuma masih suka trauma saja kalau aku lagi-lagi diajak bunda pergi tanpa sepengetahuannya. Mungkin bude masih ada sedikit rasa kecewa saat bunda kembali ke keyakinan bunda sebelumnya, beberapa hari setelah papah pergi ninggalin kita. Maklum bun, papah itu adik satu-satunya bude. Tapi bude pernah kok beberapa kali nanya sama aku, apa aku mau ketemu sama bunda. Sayangnya, bude enggak tahu sekarang bunda ada dimana. Bude saja enggak tahu, apalagi aku.

Bunda yang saat ini tidak tahu dimana, kapan kita bikin kue bareng-bareng lagi? Tenang bun, disini aku juga diajarkan bikin kue. Jadi aku enggak akan cuma main-mainin tepung lagi seperti dulu.

Bunda yang cantik yang punya anak juga cantik, hehee, aku sekarang sudah bisa pakai make up dong bun, walaupun belum berani pakai lipstik merah menyala kayak yang bunda suka pakai. Nanti bibirku terlalu seksi. Hihiii....

Bunda yang kuharap juga lagi kangen sama anak-anaknya dan suaminya, doakan semoga aku lulus ujian, dapet universitas idamanku terus kita nanti ketemu deh... heheee..

Bunda, kalau bunda baca surat ini, hubungi nomer bude ya bun, bilang aku yang kangen banget-banget sama bunda...

Salam cinta untuk bunda,

Ps: oya bun, salam untuk nenek ya..


*surat cinta ini terinspirasi dari kehidupan seorang sahabat*

Minggu, 09 Februari 2014

Untuk Kamu (yang kutahu) selalu tulus

Kepada sahabat (yang kutahu) hatinya selalu tulus…


Assalamualaikum wr.,wb..


Halo bu guru.... jangan senyum-senyum dapet surat dari aku. Hahaaa....


Apa kabar, mantan tetangga sekaligus sahabat baikku? Semenjak setahun lalu, sejak aku harus pindah dari kampung halamanku menuju tempat tinggalku yang berjarak sekitar 12 km, itu rasanya sedih karena enggak ada yang bisa diajak malam mingguan walau hanya sekedar makan bakso dekat perempatan.  Malam minggu bersama sahabat terasa lebih indah yah...???


Nis, sadar enggak sih banyak banget yang berubah dari kita? Dari penampilan sampai hal-hal yang kita bicarakan? Sekarang jilbabmu lebih panjang, melihatnya lebih adem. Badanku sekarang juga lebih...oh hanya sedikit agak lebih besar (efek musim hujan malas olahraga).


Yang paling penting adalah apa yang kita bicarakan. Dan tanpa kita sadari ada satu hal yang bikin kita sukses secara bersama-sama. Tau gak? Coba tebak! Kuhitung sampai lima. 1....2....3....4....5. tetoooooooot!!!! Kita sukses enggak membicarakan hal-hal yang galau lagi. Hahaaaa..... kegalauan yang dulu jadi bahan topik utama dengan orang yang itu-itu saja kita bicarakan. Itu tandanya apa???? Kita sukses move on. Sekarang yang kita bicarakan bukan lagi pacar, tapi.....calon suami. Hahaaaa....... Yah, walaupun aku tak greget kamu mencari tambatan hati. Hahahaaa......


Ohya, gimana kursus TOEFLnya? Semoga sukses yaaaaa.... aku yakin kamu pasti bisa, jadi nanti enggak perlu lagi datang ke aku buat minta ajarin bahasa inggris tapi udah bisa ngajarin aku malah. Heheee..... saran dariku, kamu harus cinta dulu sama bahasa inggris. Pelan-pelan, bukan karena biar gampang dapet kerja dan diterima jadi guru di sekolah elite itu. Tapi karena kamu cinta dan kamu harus bisa.


Segini dulu suratku...
Teruskan perjuanganmu belajar bahasa inggris dan mencari belahan jiwa...
Hahaaaa...


Salam.....

Irha


Sabtu, 08 Februari 2014

Tak Sampai Sayang

Di saat ketergesa-gesaan, mengejar waktu sebelum pukul 06.00 sore hari ini.


Kepada suka yang (syukurnya) tak sampai sayang.


Suka, kalau kubilang itu adalah cinta pada pandangan pertama, mungkinkah kau percaya?  Karena saat itu mataku bandel mencuri-curi waktu agar bisa melihat wajahnya, dadaku sesungguhnya berdegup kegirangan. Berarti waktu itu kamu masuk lewat mata kan? Iya, karena aku menyukainya dari mata.

Suka, jawab pertanyaanku! Sekarang kukatakan padamu, bahwa setelah itu aku betah berlama-lama bicara dengannya. Selalu berharap bertemu dengannya (walau Cuma berpapasan). Saat itu, benarkah kamu kemudian lewat melalui kata-katanya kan?


Tapi suka, untungnya kau datang hanya sendiri tanpa mengajak sahabat karibmu si sayang. Karena yang kutahu belakangan, dia benar-benar menyukaiku namun seakan enggan berjuang lebih keras menggenggamku. Padahal, dia berhasil nyaris meluluhkan tembok kerasnya hatiku.

Bukan, bukan karena aku hanya ingin diperjuangkan tanpa hanya ikut berjuang. Tapi, kalau untuk memperjuangkanku yang seorang diri saja dia enggan, bagaimana nanti ketika perjuangan itu harus dikorbankan untukku dan anak-anakku.

Katanya, aku terlalu sempurna untuk dia. Lalu, apa kabarnya dengan kekasihnya sekarang? Seakan dia hanya pantas mendapat kekasih yang cukup, tak butuh sempurna.


Suka, sampaikan salamku untuk sahabat karibmu itu. Katakan, janganlah datang menghinggapiku saat aku belum mengundangnya.



Jumat, 07 Februari 2014

Kasihan Kamu...

Untuk kamu, yang saat ini kukasihani...


Aku pernah mencarimu setengah mati. Di tumpukan harapan, dilembaran-lembaran kenangan, bahkan hampir kupaksakan waktu kembali.  Yang ada aku lelah, aku marah.


Aku pernah menunggumu tanpa jam di tangan. Sengaja. Lebih tepatnya, agar tidak terasa. Tanpa harus kubunuh satu-satu rasa bosan. Biarkan, biarkan bosan yang menemaniku setia. Yang kutahu belakangan, setianya melebihi kesetianmu.


Kamu? Kamu tak perlu datang, jika kamu sendiri hampir lupa dimana kau letakkan janji-janjimu. Di aku kah? Oh, mungkin aku yang terlalu percaya diri. Atau mungkin saat itu kamu mengantuk, hingga keliru.


Jangan, jangan kau kasihani aku yang terlalu lama disana. Disana, bersama puisi, gambar dan wangi parfummu.


Sengaja tak pernah kuniatkan melupakanmu. Bagaimana bisa melupakan orang yang pernah berbagi mimpi 
dan cita-cita denganku? Bagaimana bisa melupakan orang yang pernah membuat iri hujan akan sajak-sajaknya untukku? Bagaimana bisa melupakan orang yang pernah membuatku menunggu tanpa jam dan waktu? Bagaimana pernah bisa melupakan orang yang tanpa sengaja menyakiti atau bahkan mengkhianatiku? Bagaimana bisa melupakan orang yang memulai cerita dengan kemudian mengakhiri tanpa kata “selesai”? Bagaimana bisa melupakan orang yang diam saja tanpa reaksi atas semua protesku, tangisku, pertanyaanku?


Jangan khawatir aku tidak bisa move on. Aku sudah lebih dari itu? Hampir 5 tahun, sudah pasti cukup. Kalau kamu mau tahu, aku sering menertawakan kebodohanmu di masa lalu. Aku mulai muak atas gombal-gombalanmu dulu. Aku sudah merasa jijik saat ingat betapa dulu aku terlalu lama berharap kenangan itu kembali. Bahkan saat ini aku bisa saja mencaci-makimu kalau kamu ada di hadapanku.
Tidak ada kata terlambat kan untuk menyesal? Tapi kamu harus tahu, terkadang kamu harus bisa merasakan apa yang pernah kau buat kepada orang lain.


Aku harus jujur, pacarmu tidak lebih cantik dari aku. Tidak lebih romantis dari aku. Tidak lebih pintar dari aku. Hanya, dia lebih agresif dariku. Kasihan kamu...


Yang sudah berani jujur,



Irha 

Kamis, 06 Februari 2014

Maaf, untuk surat random ini..

Buat kaka pos cantik @ikavuje..


Ka Ika, aku Ira (kenalan dulu, salaman). Si penulis surat cinta yang udah dua hari ini bolos nulis surat. Ah, kakaaaaaaa maafkan aku (cium tangan, sungkem)

Ka Ika, sebentar lagi kan pemilu... (Bukan ini sih yang sebenarnya mau dibicarakan, ini terlalu jauh)

Ka Ika, menulis surat cinta terkadang bikin galau ya.. (Bukan, aku bukan mau curhat)

Ka Ika, kenapa sih kaka baik banget.. (pasti sudah dari sananya ya, kalau gitu tak penting lah dibahas)

Ka Ika, kaka tukang pos yang cantik dan baik hati, sesungguhnya saat kalimat-kalimat tidak penting di atas kutulis, aku sedang memikirkan apa yang akan aku bicarakan sama kaka di surat ini. Mencari topik itu tidak mudah ya (mungkin kita harus tanya bapaknya topik ─oke yang ini garing─), meski tidak sesulit mencari topik untuk skripsi (abaikan ya kaa).

Ka Ika, untuk meretweet, membaca, sampai mengomentari surat-surat cinta yang masuk, hal apa yang kaka korbankan? Kaka masih sempat makan kan? Masih sempat mandi? Heheee...

Ka Ika, kalau nanti surat-suratku banyak berisi ucapan selamat ulang tahun, jangan bosan bacanya ya ka. Soalnya, orang-orang kesayanganku banyak yang berkurang jatah umurnya di bulan februari. Apa ka Ika juga bulan februari? Kalau iya, nanti kukirimkan surat (lagi).

Ohya, masalah komentar kaka di surat cintaku di blog, sebenernya itu buat seseorang. Real kok. Cuma aja, orangnya enggak terlalu eksis di dunia pertwitteran. Yah karena aku juga terlalu, malu. Dan entah mengapa aku lebih senang menyukainya diam-diam. Tapi, untuk paragraf ini jangan bilang siapa-siapa ya.

Ka Ika, mungkin surat ini random, gak jelas. Karena itu kaka harus baca lagi kalimat bertulisan tebal di atas. Untuk paragraf dengan tulisan miring di atas, itu bukan curhat. Sekali lagi, itu bukan curhat.

Jangan lupa makan, mandi dan cukup tidur kaka. Nanti tak ada pembaca setia surat-surat
cintaku. Tenang ka, aku tidak menuntut suratku dibalas.

Dengan penuh penyesalan atas surat random ini,



Irha


Ps: tidak ada pesan.

Senin, 03 Februari 2014

You got me, success!!

This unspecial letter just for you, yeah just for you.


You only need to read this conversation from the bottom up. And please don’t compare my english with yours. I know you graduated from English Literature.


Me : “No. That’s ours” *if you want to know, now I’m dancing rolling around on my bed*

You : “Hei, that’s mine. Hahahaaa…”

Me : “You don’t believe? This is the real me and no hacked by anyone”

You : “Are you kidding me? This is the real me and no hacked by anyone. And you don’t need to hack yours”

Me : “How I answer yours when you got me success and you don’t need to do anything?”

You : “Just answer!
How can i get you? How can i get you? How can i get you? How can i get you? How can i get you? How can i get you? How can i get you? How can i get you? How can i get you? How can i get you? Sorry to ask this. I mean, how can i make you to love me back?”

Me : “......?”

You : “So, how can i get you?”

Me : “That’s mine. Hahahaaa.....”

You : “You asked that, what’s your intention?”

Me : “No. I just asked you back.”

You : “It’s ok if you won’t to tell me.”

Me : “Hah? You asked that, what’s your intention?”

You : “I mean, do you have some criteria for your future husband?”

Me : “Hah?”

You : “Hmm... What made you fall in love with someone?”

Me : “Yup!”

You : “Honestly?”

Me : “Sure. I will answer, correctly. Hahahaa...

You : “I wanna ask you some “things”, may i?”

Me : “Hahahaaa... I promise” *but from now, i’ll keep my promise*

You : “Ok, no problem. But i will wait that “someday”. Heheee...”

Me : “Someday, i will.” *even i don’t know, how much i gather my braveness to tell that*

You : “But, if you never mind to tell that.”

Me : “Are you really want to know?” *how can i said that the reason of my happiness is you*

You : “Hahaaa... How can you feeling happy as always? Yeah, everytime i asked you, you always said that.”

Me : “As always, happy!” *if you don’t believe it, you must see the smile on my face*

You : “How are you?”

Me : “Hi!”

You : “Hello!”


You confused huh? Let me tell you a clue about that. This is just my wish (wish it’ll be come true), you means to who receive this letter, me means to who write this letter.

So, thank you for received this letter.

Regard,

Irha


Ps: Btw, I wrote this letter.