Selasa, 22 Oktober 2019
Koperasi dan Generasi Millenial: Collaboration Over Competition.
Minggu, 20 Oktober 2019
MANFAAT DOMINO SILA KETIGA: ZAKAT
Senin, 19 September 2016
Aku tak pernah mengeluh. Kecuali tentang kamu.
Aku tak pernah mengeluh. Kecuali tentang kamu.
Tentang kamu yang pernah melukiskan pelangi tanpa hujan.
Tentang kamu yang menjadi syair terdendang setiap hari.
Tentang kamu yang sengaja mengetuk, ucapkan salam sembari membawa buah tangan, lalu aku persilahkan duduk.
Kamu tidak perlu menjadi tamu, untuk kusajikan kudapan dan kopi, bicara sebentar lalu pergi.
Atau menjadi seorang kurir, pengantar barang tanpa pengirim, meminta tanda tangan, kemudian bergerak ke rumah lainnya.
Bisakah kamu kembali? Ke rumah yang tadi. Disana masih ada aku berdiri di balik pagar.
Atau jangan-jangan kamu lupa. Lupa ada yang tertinggal masih tergenggam.
Aku tak pernah mengeluh. Kecuali tentang kamu.
Tentang kamu yang setiap harinya kuceritarakan pada semesta.
Sejak hari itu.
Sejak kau mengetuk pintu
Pamulang, 19 September 2016.
Sehabis langit meringis hingga menangis.
Selasa, 02 Februari 2016
Datanglah tepat waktu
Kita ini sering tidak sepadan. Aku mau tidur, kau tak kunjung datang.
Datanglah saat jam 10 malam. Aku butuh bangun setengah jam sebelum adzan berkumandang.
Datanglah saat aku lelah. Karena pergi seharian.
Datanglah saat jam istirahat siang. Aku butuh tidur meski hanya 10 menit.
Datanglah di saat yang tepat, jangan tiba-tiba ataupun terlambat.
Saat pagi, harusnya kau sudah pergi, tapi malah betah nempel di muka bantalku. Aku terpaksa mengusirmu, tapi tetap saja kau selalu yang berkuasa.
Jangan datang saat aku sedang sibuk dengan hobiku, kalau kau tak mau kucaci maki.
Jangan datang saat aku sendiri dalam mobil. Niat sekali kau membunuhku sadis.
Jangan datang saat aku bertemu Tuhanku. Pasti itu perintah setan.
Jangan datang saat aku baca buku. Bisakah kau biarkan aku sedikit lebih pintar?
Jangan datang saat aku selesai makan. Kau penyebab terbesar tubuhku yang sekarang gempal.
Jangan datang saat aku nonton tv. Bisa-bisa malah aku yang ditonton tv.
Jangan datang sekarang! Suratku belum selesai.
Jadilah sebuah rasa yang professional. Yang datang dengan permisi, pamit saat pergi.
aku tahhhhu kau mmulai datang ..
Senin, 01 Februari 2016
Bisa, kan?
Jika nanti kita bertemu, bisakah kita saling berdiam? Beberapa detik saja, membiarkan waktu menikmati kegirangannya atas hasil jerih payahnya selama ini.
Jika nanti kita bertemu, bisakah kita saling bertatap? Tanpa kata, tanpa suara. Membiarkan jantung sibuk menata detaknya yang mulai tak beraturan, tidak karuan.
Jika nanti kita bertemu, bisakah kita kemudian saling melempar senyum? Tanpa harus tertawa terbahak. Membiarkan aroma tubuhku dan tubuhmu saling mengenal, kemudian menyatu, akrab.
Jika nanti kita bertemu, berhasil berdiam, bertatap dan saling melempar senyum. Bolehkan kita mulai bicara? Tanpa topik dan teori. Biar saja kata-kata absurd, random atau konyol menjadi terdengar lebih manis dan romantis.
Saat kita bicara, mungkinkah kita lupakan sejenak, bagaimana lelahnya mencari dan menunggu, bagaimana susahnya mengumpulkan rasa sabar, bagaiman repotnya menutup telinga rapat-rapat dari bisingnya polusi omongan orang.
Bukankah kita sudah disini, bertemu, dan suatu saat akan menjadi "kembali"? Yang tanpa sengaja membuat daun-daun cemburu dan burung-burung yang mencoba menggoda. Bahkan gerimis malu mengganggu.
Sayang...
Jika nanti kita bertemu, bisakah kau katakan,
"Antarkan aku pada ayahmu. Aku ingin menculik putri sulungnya dengan cara yang paling santun".
Minggu, 31 Januari 2016
SURAT SUKA
Bisa bicara sebentar? Ada gumpalan tanya yang (sepertinya) perlu kamu jawab.
Siap?
Apa rasanya menjadi orang yang namanya kusebut setiap hari? Lebih dari lima kali sehari. Tersedakkah? Aku harap tidak. Karena kalau iya, aku pasti khawatir setengah mati.
Bagaimana rasanya kenal aku? Manusia yang sok peduli. Tapi sungguh, aku betul-betul peduli.
Sudahkah kamu dengar angin membisikimu, "Dapet salam dan rindu"?. Asal kamu tahu, itu dari aku dan atas perintahku.
Kalau suatu hari nanti, saat aku benar-benar berani, saat hilang semua rasa malu, saat tekad sudah kubentuk menjadi bulat sempurna, saat kata "suka" itu meluncur tanpa roda, menghembus tanpa suara. Apa reaksimu?
Aku suka kamu. Seperti sukanya ulat kepada pucuk daun teh.
Aku suka kamu. Seperti sukanya pagi kepada embun.
Aku suka kamu. Seperti sukanya malam kepada bulan.
Aku suka kamu. Kamu yang seperti kamu. Tanpa perlu jadi setampan Liam Hemsworth. Tanpa harus sejenius Bapak B.J Habibi. Tanpa mesti jadi sekaya Mark Zuckerberg.
Aku suka kamu.
Sudah sesuka itu aku padamu.
Lalu, bisakah kamu percaya?
Jumat, 29 Januari 2016
Mau Langsing
Sabtu, 31 Januari 2015
Senja Hari Ini
Apa kabar kamu? Semoga duniamu lebih indah dan menyenangkan. Walaupun kutahu, kamu sedang berjuang. Entah berjuang untuk siapa. Meski belakangan kuyakini, untuk bidadari dunia akhiratmu (katamu di status facebook).
Aku hanya ingin sedikit bercerita. Entah kekagumanku dimulai sejak kapan dan dari mana. Ya, kekagumanku kepadamu. Ah, jangan kaget. Karena ekspresi kagetmu akan membuatku mundur jauh, menunduk. Malu.
Mungkin benar apa yang dibilang Ed Sheeran. "I'm thinking bout how people fall in love in mysterious ways". Kufikir ini benar-benar misterius. Bagaimana aku bisa jatuh cinta dengan teman sepermainan? Bagaimana aku bisa menyukai kamu, padahal kita sering tak sependapat dalam banyak hal?
Kalau kata orang diam itu emas. Lalu, bagaimana denganku yang mencintaimu diam-diam hampir dua tahun belakangan? Tak perlu lagi kamu memberikanku mahar berupa emas saat melamarku nanti. Aku sudah punya banyak. Kutabung dengan metode diam-diam.
Baiklah, jangan kamu hiraukan paragraf yang baru saja kutulis. Meski sebenarnya itu inti dari ceritaku.
Aku tak terlalu banyak mempunyai perbendaharaan kata untuk bilang, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Benar kan kalau jatuh cinta itu kita akan tersenyum 25 jam hanya karena mampirnya tanda 'jempol' di facebook atau 'love' di path di status kita? Benar kan kalau jatuh cinta itu kita sering meringis cemburu hanya karena ada orang lain yang terlihat lebih akrab? Kuulangi, aku betul-betul jatuh cinta. Meski dalam diam, yang tak terlihat, terkadang samar. Sekali lagi, aku jatuh cinta, kepada kamu. Meski dalam diam, tapi percayalah namamu tak bosan kulaporkan pada Tuhan.
Senja hari ini, kepada kamu yang namanya tak kuasa kugoreskan.
- irha -
Jumat, 30 Januari 2015
Hey, kamu!!! MOVE ON!!!
Hey, kamu!!! Perempuan sok romantis nan melankolis.
Kenapa waktu sekolah TK dulu susah bedain mana baca puisi, mana baca pidato? Memalukan.
Hey, kamu!!! Perempuan yang sebentar lagi 24 tahun.
Masih ingat waktu kelas 5 SD bohong sama guru ngaku mengerjakan PR di rumah, padahal kerjainnya di sekolah? Minta maaf sama gurunya udah belum?
Hey, kamu!!! Perempuan yang berulang kali diet tapi masih enggak kuat kalau liat risol.
Tega banget sih saat teman-temanmu yang sudah menyiapkan telur, terigu, air di botol-botol buat kasih kejutan di ulang tahun ke-12, tapi kamu malahan minta dijemput lebih dulu sama ayahmu. Bilang maaf sama mereka, sudah?
Hey, kamu!!! Perempuan hobi pramuka yang kalau selfie masih sering pakai camera 360.
Apa sih yang membuat nilai aljabar dan aritmatikamu jarang di atas 6? Jangan malas!
Hey, kamu!!! Perempuan yang mengaku lebih cantik dari pacarnya mantanmu.
Menyesal pernah melepaskan orang kesayangan begitu saja? Bertahan di atas kebohongan-kebohongan manis? Menangisi sesuatu yang sebenarnya membuang waktu? Menyesalkah?
Hey, kamu!!! Perempuan yang setengah mati menghindari pertanyaan "kapan nikah?", "pacarnya mana?" Di hampir setiap acara keluarga.
Percuma kamu simpan dan catat berulang kali setiap kata-kata bijak. Percuma kamu bermimpi di luar batas angan. Percuma kamu menasihati orang lain. Percuma kalau kamu masih duduk disana dengan tidak ada kemajuan. Ketika orang lain berlari, mengapa kamu hanya merangkak? Bergerak. Mimpimu, jodohmu, bahagiamu, menanti untuk dikejar.
Hey, kamu!!! Perempuan yang sedang menulis surat ini.
Apa enggak malu menulis surat untuk diri sendiri? Apa enggak aneh mengomeli diri sendiri? Sudah, cepat sana! Bergerak walau perlahan. Jangan lupa, minta restu ayah ibu. Semoga berhasil!!
Jumat, 30 Mei 2014
Siapa Tau...
Saya menulis ini di dalam busway transJ di Jakarta. Meniru J.K Rowling yang mendapat inspirasi tentang serial Harry Potter di kereta di London. Mungkin tulisan saya tidak akan melegenda seperti punya tante Rowling. Tapi, siapa tau ini bisa jadi pintu meluluskan saya menggapai cita-cita saya... ke Inggris. Itu sudah lebih dari cukup. Siapa tahu, bukan?
Siapa tau, saya berkunjung ke sana menengok salah satu negara Eropa yang paling berpengaruh di dunia. Negara dengan liga sepak bola paling keren di jagat raya, negara dengan penerbitan buku lebih dari 200.000 buku pertahunnya, negara tempat Harry Potter, Hermione dan Ron Weasley menjadi sahabat, negara asal lelaki paling romantis William Shakespeare, negara dimana Vivienne Westwood berasal, negara dengan kampus paling populer Oxford dan Cambridge.
Siapa tau, saya bisa menginjakkan kaki di Westminster Abbey dan Buckingham Palace, bangunan kuno peninggalan masa lalu.
Siapa tau, saya bisa berpose di samping Beefeater. Prajurit penjaga menara London berseragam merah dengan rambut gimbal ke atas. Sambil bertanya, "sudah berapa banyak manusia norak seperti saya yang berpose di sampingmu sepanjang hari ini?"
Siapa tau, saya berkesempatan naik bus tingkat merah kebanggan London. Atau sekedar merasakan bagaimana rasanya masuk ke kotak telepon umum paling hits di dunia.
Siapa tau, saya bisa bernafas puas sambil memandangi big ben atau London Eye. Kemudian sekedar datang sejenak ke Trafalgar Square, tempat dimana sempat diadakan acara Hallo Indonesia.
Siapa tau, saya akan berdiri sejengkal dari platform 9 3/4 di Kings Cross Station. Peron yang diharapkan nyata oleh hampir semua orang.
Siapa tau, saya akan membuat iri para fans Chelsea, Arsenal dan Tottenham Hotspur ketika akhirnya saya berhasil berdiri di atas tanah Stamford Bridge, Emirates Stadium dan White Hart Lane.
Siapa tau, paling untung saya bisa bertemu keluarga kerajaan walau untuk melihatnya saya harus berlari hingga berkeringat.
Siapa tau, saya bisa membuat para fans MU dan Manchester City sinis ketika tau saya asik berkelana ke tempat impian mereka. Old Trafford dan Etihad Stadium.
Siapa tau, saya bisa melipir sejenak ke Salford University. Salah satu kampus idaman.
Siapa tau, saya terdampar manis di Beatles Museum di Liverpool. Berpose, belajar atau sekedar tersenyum-senyum kesenangan.
Siapa tau, akhirnya saya sampai pada tujuan paling diidam-idamkan. Ke ANFIELD! Atau mungkin saya akan teriak kegirangan, update di media sosial sana sini, pose di segala sudut, belanja, menyimpan sehelai saja rumput Anfield, menyentuh tulisan sakral "This is Anfield". Layaknya para pemain, manager atau official Liverpool sesaat sebelum pertandingan. Memakai jersey kebangsaan bersamaan ribuan manusia yang memaknai benar arti "You'll Never Walk Alone".
Siapa tau, saya akan gugup tak bisa bicara saat benar-benar bertemu para pemain yang selama ini hanya melihat dari layar kaca berjarak milliaran mill.
Siapa tau, saya akan susah payah mengatur nafas saat bertemu Steven Gerrard. Kapten kesayangan yang selama ini hanya saya mampu saya mention lewat twitter. Yang selama ini saya kagumi termasuk dengan logat scouse nya yang setengah mati kupahami.
Siapa tau, saya akan menganga melihat The Mystical Healing Ground, Stonehenge. Bangunan menakjubkan yang menurut saya tidak masuk akal.
Siapa tau, saya bisa bertemu Westlife yang mungkin sedang mampir di Inggris, bersalaman dengan si Mr. Bean yang lagi ngopi di pinggiran kota atau si Cantik Lana del Ray. Atau.... terlalu banyak yang belum dikeluarkan hal-hal berbau Inggris di brankan selaput otak saya.
Siapa tau, saya berhasil menjadi makhluk bumi yang beruntung pergi ke Inggris Gratis selama 7 hari.
Siapa tau.
Siapa tau.
Siapa tau. Tulisan ini mampir dan terus-terusan bersarang di otak para juri.
Siapa tau, saya berjodoh dengan Inggris.
Kamis, 27 Februari 2014
Selamat Ulang Tahun
Assalamualaikum...
Jangan panik, jangan heran, jangan takut, jangan bingung dan jangan marah. Aku hanya minta waktu kamu sebentar saja untuk baca surat ini. Gak sampai lima menit, meski mungkin sedikit panjang. Tenang saja, ini bukan surat balas dendam, surat marah-marah, surat tagihan janji-janji kamu sama aku (i don't care about your promises and i know you forgeted these all), dan ini juga bukan surat permohonan supaya kamu putuskan pacarmu yang sekarang dan kembali kepadaku lagi.
I just wanna say, happy birthday to you. All beautiful wishes for you. Tenang saja, doaku ini tulus (sejak kapan aku tidak tulus mendoakan orang lain) tanpa imbalan. Tapi tidak seperti lima tahun lalu (kalau aku tidak salah), doaku ini hanya doa tanpa puisi. Hanya doa tanpa air mata yang kupinta setiap selesai sholatku. Dan tentu saja, doaku ini tulus meski tak ada hadiah yang kukirimkan untukmu.
Rasanya basi ketika aku harus mengirimu surat lagi. Hal yang pernah kita lakukan dalam kurun waktu kurang lebih 6 bulan di masa itu. Harusnya ini tak pernah kulakukan lagi. But because i blocked your facebook, blocked your twitter, deleted your phone number, deleted your bbm and trying to avoid you by direct communication. Jadi, ya mungkin harus aku tulis surat ini untuk sekedar bertanya kabarmu dan ucapan selamat ulang tahun. Aku lakukan itu semua bukan karena aku takut sakit hati (aku bahkan sudah lelah dan enggan sakit hati), bukan karena aku masih punya harapan terhadapmu (menurutku itu sama sekali tidak perlu) tapi karena hanya agar aku bisa menahan diri untuk tidak memakimu, membencimu setengah mati, bahkan menjelek-jelekkanmu.
Maaf, kalau kamu resah dengan surat ini. Kamu tidak perlu membalasnya kalau kamu merasa tidak perlu. Suratku ini isinya ucapan selamat ulang tahun yang kutujukan untukmu untuk tahun-tahun berikutnya. Jadi, tahun depan mungkin aku tidak perlu memberi ucapan itu lagi (even i know, you don't need and care about this letter).
Aku harap kamu tidak risih dengan surat ini. Kalau kamu risih, mungkin ini kerisihan terakhir yang kutimbulkan. Kalau kamu marah, kemarahanmu hanya sebentar, karena esok-esok aku tidak akan penyebab kemarahanmu. Meski harusnya aku yang memarahimu mati-matian. Tapi, ya sudahlah. Toh aku marah atau tidak, aku membencimu atau tidak dan apapun yang kulakukan tidak akan pernah merubah yang pernah terjadi.
Aku menulis surat ini saat hujan deras turun. Sendu? Tidak. Karena kita tidak pernah memiliki kenangan bersama hujan. Kejarlah cita-citamu, sejauh apapun kamu berlari. Sekali lagi, selamat tanggal 27 Februari untuk yang ke 22 kalinya.
"Health makes all things possible, wealth makes all things work, love makes all things beautiful. May you have al, three in your new age" (maaf, kucontek smsmu di malam tahun baru 2008).
HAPPY BIRTHDAY!!
Irha
Selasa, 18 Februari 2014
Surat Ngebuuuuuuut!!!
Kepada kak Ika yang hari ini pasti banyak dapat surat ajakan kencan...
Surat ini bikinnya ngebut ka. Maaf, tadi aku langsung buka blog. Ah, ka Ika, semoga surat ini sampai tepat waktu dan tidak telat.
Ka, kata orang-orang naik agya asik ya? Pasti akan lebih asik kalau naik bareng kakak. Tak perlu jauh-jauh, tak perlu mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera (kelewatan nyanyi). Kalau kita menikmati perjalanan, dengan siapa dan naik apa pasti lebih menyenangkan. Kakak, kita gantian nyetir deh? Gimana? Tapi aku baru bisa 2 minggu ini bawa mobil. Heheee.....
Ka, jadi kita mau kemana nih? Keliling kota? Ah, kemana pun tak akan aku sesali. Kakak, mungkin kakak akan lebih memilih kencan naik agya dengan orang yang lebih jago nyetir. Tenang ka, sisa waktu beberapa hari ini aku akan belajar mobil mati-matian biar lancaaaaaaaaaaaar........
Aduh ka, waktuku mau habis. Sempatkan baca suratku. Percayakan kencan denganku. Akan kubawa kakak ke tempat yang tak terlupakan seumur hidup. Hihiiiii......
Nb: Kalau kita jadi jalan-jalan nanti, aku siapkan bekal super enak.
Tapi jangan ajak aku ngebut ka, aku masih jomblo. :p
Terima Kasih
Kepada Qosim, adik guruku...
Qosim, masih ingat kakak? Kita bertemu sekitar tiga tahun lalu di Pesantren Ramadhan 1000 Anak Jalanan. Tepatnya di pelataran masjid At-Tin Jakarta Timur. Kakak jadi pendampingmu dan teman-temanmu. Ah, tapi kakak lupa siapa saja nama mereka. Ada satu yang kakak ingat selain kamu, namanya Aji. Maaf, kakak ini memang pelupa.
Qosim, kamu masih membantu ibumu? Kamu pernah cerita, kamu selalu membantu ibumu mengupas kerang di pasar. Hasil upah dari itu hanya sebesar 6000-10000 perhari. Kakak fikir, untuk kakak uang segitu mana cukup untuk bertahan hidup seharian?? Tapi mungkin kakak ini yang kurang bersyukur. Tapi ibumu sungguh hebat dik, bisa mengatur uang yang sungguh hanya sedikit. Mungkin ada tambahan uang dari bapakmu yang bekerja serabutan juga?? Ah, tapi itu kan hanya saat bapakmu dapat kerjaan.
Qosim, rasanya kakak ini malu. Malu sama kamu. Kakak masih suka bingung pilih baju ketika mau pergi, padahal baju itu menumpuk di lemari. Sedangkan kamu, bajumu itu-itu saja. Baju koko warna krem yang terkadang lusuh. Kakak masih merasa tersentil ketika kamu dengan senang hati dan girang tak karuan saat mendapatkan handuk kecil gratis, sikat gigi, odol dan sebatang sabun mandi untuk kegiatanmu di acara itu. Kakak masih jauh dari hati yang tulus saat kakak lihat kamu selalu tersenyum, jahil, susah dibangunin tidur namun riang gembira. Padahal hidupmu jauh dari kata cukup. Kakak? Masih sering galau dan mengeluh untuk hal-hal yang sepele.
Kakak selalu ingat kata ibu yayasan, bahwa setiap anak itu memiliki kebutuhan yang sama, yang berbeda hanyalah apa yang mereka dapatkan. Sayang, sesungguhnya kamu jauh lebih mendapatkan apa yang anak-anak lain dapatkan. Kamu mendapatkan pelajaran hidup yang luar biasa.
Qosim, kalau suatu saat kita bertemu. Di jalanan (mungkin kamu ikut mengamen bersama teman-temanmu), di pasar, atau bertemu lagi saat ramadhan nanti, ingatkan kakak untuk selalu bersyukur, ingatkan kakak bahwa hidup bukan tentang siapa kita, ingatkan kakak kalau kamu adalah adik yang pernah kakak dampingi. Bukan kakak lupa, hanya takut kamu tumbuh terlalu cepat. Tetap sekolah Qosim, tetap membantu bapak dan ibumu, tetap menjadi guru cilik untuk kakak. Guru yang mengajarkan bahwa kita sebenarnya tidak punya apa-apa. Semuanya hanyalah titipan Tuhan yang suatu saat akan diambil olehnya.
Terima kasih Qosim, untuk 5 hari yang super dahsyat.
Tertanda,
Semoga kamu jadi anak yang sholeh. Amiiin...
Minggu, 16 Februari 2014
Cinta Monyet Bukan Main-Main
nb:
Sabtu, 15 Februari 2014
Yang tak tahu dimana
Assalamualaikum bunda...
Apa bunda masih ingat jawaban salam itu? Hehee..
Bunda apa kabar? Saat aku tulis surat ini, aku lagi kangen sekangen-kangennya sama bunda, papah, adek aisyah dan adek fatimah. Bun, kangen mereka juga enggak? Tapi mereka pasti sudah sangat-sangat bahagia disana.
Bunda, sebentar lagi aku lulus sekolah. Di sekolahku yang dinamakan pesantren ini, aku harus selalu pakai jilbab. Alhamdulillah, sekarang aku juga sudah berjilbab. Mudah-mudahan aku enggak kalah cantik sama bunda walaupun berjilbab.
Bunda, aku minta maaf ya waktu bude tanya sama aku, apa aku mau ikut bude atau ikut bunda. Kata bude, kalau aku ikut bude aku harus rajin sholat dan mengaji. Saat itu entah mengapa aku memilih untuk ikut bude. Bukan karena aku tidak sayang bunda, bukan karena aku tidak mau tinggal sama bunda. Mana ada anak perempuan yang tidak senang punya bunda cantiknya seperti model-model di tv. Heheee.. Tapi mungkin waktu itu, aku sudah terbiasa diajarkan sholat dan mengaji, jadi itu membuatku nyaman.
Bunda, nanti kalau ada perpisahan di pesantrenku, bunda datang ya.. Kutitipkan undangan khusus untuk bunda. Semoga bude memberi izin untuk bunda datang di hari kebangganku. Sepulang dari sana, kita sama-sama ke makam papah, aisyah dan fatimah. Lagi-lagi kalau bude memberi izin. Maafkan bude ya bun, yang suka overprotective. Bude baik kok bun, cuma masih suka trauma saja kalau aku lagi-lagi diajak bunda pergi tanpa sepengetahuannya. Mungkin bude masih ada sedikit rasa kecewa saat bunda kembali ke keyakinan bunda sebelumnya, beberapa hari setelah papah pergi ninggalin kita. Maklum bun, papah itu adik satu-satunya bude. Tapi bude pernah kok beberapa kali nanya sama aku, apa aku mau ketemu sama bunda. Sayangnya, bude enggak tahu sekarang bunda ada dimana. Bude saja enggak tahu, apalagi aku.
Bunda yang saat ini tidak tahu dimana, kapan kita bikin kue bareng-bareng lagi? Tenang bun, disini aku juga diajarkan bikin kue. Jadi aku enggak akan cuma main-mainin tepung lagi seperti dulu.
Bunda yang cantik yang punya anak juga cantik, hehee, aku sekarang sudah bisa pakai make up dong bun, walaupun belum berani pakai lipstik merah menyala kayak yang bunda suka pakai. Nanti bibirku terlalu seksi. Hihiii....
Bunda yang kuharap juga lagi kangen sama anak-anaknya dan suaminya, doakan semoga aku lulus ujian, dapet universitas idamanku terus kita nanti ketemu deh... heheee..
Bunda, kalau bunda baca surat ini, hubungi nomer bude ya bun, bilang aku yang kangen banget-banget sama bunda...
Salam cinta untuk bunda,
Ps: oya bun, salam untuk nenek ya..
*surat cinta ini terinspirasi dari kehidupan seorang sahabat*
Minggu, 09 Februari 2014
Untuk Kamu (yang kutahu) selalu tulus
Sabtu, 08 Februari 2014
Tak Sampai Sayang
Jumat, 07 Februari 2014
Kasihan Kamu...
Kamis, 06 Februari 2014
Maaf, untuk surat random ini..
Senin, 03 Februari 2014
You got me, success!!
You only need to read this conversation from the bottom up. And please don’t compare my english with yours. I know you graduated from English Literature.
Me : “No. That’s ours” *if you want to know, now I’m dancing rolling around on my bed*
You : “Hei, that’s mine. Hahahaaa…”
Me : “You don’t believe? This is the real me and no hacked by anyone”
You : “Are you kidding me? This is the real me and no hacked by anyone. And you don’t need to hack yours”
Me : “How I answer yours when you got me success and you don’t need to do anything?”
You : “Just answer!
How can i get you? How can i get you? How can i get you? How can i get you? How can i get you? How can i get you? How can i get you? How can i get you? How can i get you? How can i get you? Sorry to ask this. I mean, how can i make you to love me back?”
Me : “......?”
You : “So, how can i get you?”
Me : “That’s mine. Hahahaaa.....”
You : “You asked that, what’s your intention?”
Me : “No. I just asked you back.”
You : “It’s ok if you won’t to tell me.”
Me : “Hah? You asked that, what’s your intention?”
You : “I mean, do you have some criteria for your future husband?”
Me : “Hah?”
You : “Hmm... What made you fall in love with someone?”
Me : “Yup!”
You : “Honestly?”
Me : “Sure. I will answer, correctly. Hahahaa...
You : “I wanna ask you some “things”, may i?”
Me : “Hahahaaa... I promise” *but from now, i’ll keep my promise*
You : “Ok, no problem. But i will wait that “someday”. Heheee...”
Me : “Someday, i will.” *even i don’t know, how much i gather my braveness to tell that*
You : “But, if you never mind to tell that.”
Me : “Are you really want to know?” *how can i said that the reason of my happiness is you*
You : “Hahaaa... How can you feeling happy as always? Yeah, everytime i asked you, you always said that.”
Me : “As always, happy!” *if you don’t believe it, you must see the smile on my face*
You : “How are you?”
Me : “Hi!”
You : “Hello!”
You confused huh? Let me tell you a clue about that. This is just my wish (wish it’ll be come true), you means to who receive this letter, me means to who write this letter.
So, thank you for received this letter.
Regard,
Irha
Ps: Btw, I wrote this letter.