Senin, 01 Februari 2016
Bisa, kan?
Jika nanti kita bertemu, bisakah kita saling berdiam? Beberapa detik saja, membiarkan waktu menikmati kegirangannya atas hasil jerih payahnya selama ini.
Jika nanti kita bertemu, bisakah kita saling bertatap? Tanpa kata, tanpa suara. Membiarkan jantung sibuk menata detaknya yang mulai tak beraturan, tidak karuan.
Jika nanti kita bertemu, bisakah kita kemudian saling melempar senyum? Tanpa harus tertawa terbahak. Membiarkan aroma tubuhku dan tubuhmu saling mengenal, kemudian menyatu, akrab.
Jika nanti kita bertemu, berhasil berdiam, bertatap dan saling melempar senyum. Bolehkan kita mulai bicara? Tanpa topik dan teori. Biar saja kata-kata absurd, random atau konyol menjadi terdengar lebih manis dan romantis.
Saat kita bicara, mungkinkah kita lupakan sejenak, bagaimana lelahnya mencari dan menunggu, bagaimana susahnya mengumpulkan rasa sabar, bagaiman repotnya menutup telinga rapat-rapat dari bisingnya polusi omongan orang.
Bukankah kita sudah disini, bertemu, dan suatu saat akan menjadi "kembali"? Yang tanpa sengaja membuat daun-daun cemburu dan burung-burung yang mencoba menggoda. Bahkan gerimis malu mengganggu.
Sayang...
Jika nanti kita bertemu, bisakah kau katakan,
"Antarkan aku pada ayahmu. Aku ingin menculik putri sulungnya dengan cara yang paling santun".
Minggu, 31 Januari 2016
SURAT SUKA
Bisa bicara sebentar? Ada gumpalan tanya yang (sepertinya) perlu kamu jawab.
Siap?
Apa rasanya menjadi orang yang namanya kusebut setiap hari? Lebih dari lima kali sehari. Tersedakkah? Aku harap tidak. Karena kalau iya, aku pasti khawatir setengah mati.
Bagaimana rasanya kenal aku? Manusia yang sok peduli. Tapi sungguh, aku betul-betul peduli.
Sudahkah kamu dengar angin membisikimu, "Dapet salam dan rindu"?. Asal kamu tahu, itu dari aku dan atas perintahku.
Kalau suatu hari nanti, saat aku benar-benar berani, saat hilang semua rasa malu, saat tekad sudah kubentuk menjadi bulat sempurna, saat kata "suka" itu meluncur tanpa roda, menghembus tanpa suara. Apa reaksimu?
Aku suka kamu. Seperti sukanya ulat kepada pucuk daun teh.
Aku suka kamu. Seperti sukanya pagi kepada embun.
Aku suka kamu. Seperti sukanya malam kepada bulan.
Aku suka kamu. Kamu yang seperti kamu. Tanpa perlu jadi setampan Liam Hemsworth. Tanpa harus sejenius Bapak B.J Habibi. Tanpa mesti jadi sekaya Mark Zuckerberg.
Aku suka kamu.
Sudah sesuka itu aku padamu.
Lalu, bisakah kamu percaya?
Jumat, 29 Januari 2016
Mau Langsing
Sabtu, 31 Januari 2015
Senja Hari Ini
Apa kabar kamu? Semoga duniamu lebih indah dan menyenangkan. Walaupun kutahu, kamu sedang berjuang. Entah berjuang untuk siapa. Meski belakangan kuyakini, untuk bidadari dunia akhiratmu (katamu di status facebook).
Aku hanya ingin sedikit bercerita. Entah kekagumanku dimulai sejak kapan dan dari mana. Ya, kekagumanku kepadamu. Ah, jangan kaget. Karena ekspresi kagetmu akan membuatku mundur jauh, menunduk. Malu.
Mungkin benar apa yang dibilang Ed Sheeran. "I'm thinking bout how people fall in love in mysterious ways". Kufikir ini benar-benar misterius. Bagaimana aku bisa jatuh cinta dengan teman sepermainan? Bagaimana aku bisa menyukai kamu, padahal kita sering tak sependapat dalam banyak hal?
Kalau kata orang diam itu emas. Lalu, bagaimana denganku yang mencintaimu diam-diam hampir dua tahun belakangan? Tak perlu lagi kamu memberikanku mahar berupa emas saat melamarku nanti. Aku sudah punya banyak. Kutabung dengan metode diam-diam.
Baiklah, jangan kamu hiraukan paragraf yang baru saja kutulis. Meski sebenarnya itu inti dari ceritaku.
Aku tak terlalu banyak mempunyai perbendaharaan kata untuk bilang, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Benar kan kalau jatuh cinta itu kita akan tersenyum 25 jam hanya karena mampirnya tanda 'jempol' di facebook atau 'love' di path di status kita? Benar kan kalau jatuh cinta itu kita sering meringis cemburu hanya karena ada orang lain yang terlihat lebih akrab? Kuulangi, aku betul-betul jatuh cinta. Meski dalam diam, yang tak terlihat, terkadang samar. Sekali lagi, aku jatuh cinta, kepada kamu. Meski dalam diam, tapi percayalah namamu tak bosan kulaporkan pada Tuhan.
Senja hari ini, kepada kamu yang namanya tak kuasa kugoreskan.
- irha -
Jumat, 30 Januari 2015
Hey, kamu!!! MOVE ON!!!
Hey, kamu!!! Perempuan sok romantis nan melankolis.
Kenapa waktu sekolah TK dulu susah bedain mana baca puisi, mana baca pidato? Memalukan.
Hey, kamu!!! Perempuan yang sebentar lagi 24 tahun.
Masih ingat waktu kelas 5 SD bohong sama guru ngaku mengerjakan PR di rumah, padahal kerjainnya di sekolah? Minta maaf sama gurunya udah belum?
Hey, kamu!!! Perempuan yang berulang kali diet tapi masih enggak kuat kalau liat risol.
Tega banget sih saat teman-temanmu yang sudah menyiapkan telur, terigu, air di botol-botol buat kasih kejutan di ulang tahun ke-12, tapi kamu malahan minta dijemput lebih dulu sama ayahmu. Bilang maaf sama mereka, sudah?
Hey, kamu!!! Perempuan hobi pramuka yang kalau selfie masih sering pakai camera 360.
Apa sih yang membuat nilai aljabar dan aritmatikamu jarang di atas 6? Jangan malas!
Hey, kamu!!! Perempuan yang mengaku lebih cantik dari pacarnya mantanmu.
Menyesal pernah melepaskan orang kesayangan begitu saja? Bertahan di atas kebohongan-kebohongan manis? Menangisi sesuatu yang sebenarnya membuang waktu? Menyesalkah?
Hey, kamu!!! Perempuan yang setengah mati menghindari pertanyaan "kapan nikah?", "pacarnya mana?" Di hampir setiap acara keluarga.
Percuma kamu simpan dan catat berulang kali setiap kata-kata bijak. Percuma kamu bermimpi di luar batas angan. Percuma kamu menasihati orang lain. Percuma kalau kamu masih duduk disana dengan tidak ada kemajuan. Ketika orang lain berlari, mengapa kamu hanya merangkak? Bergerak. Mimpimu, jodohmu, bahagiamu, menanti untuk dikejar.
Hey, kamu!!! Perempuan yang sedang menulis surat ini.
Apa enggak malu menulis surat untuk diri sendiri? Apa enggak aneh mengomeli diri sendiri? Sudah, cepat sana! Bergerak walau perlahan. Jangan lupa, minta restu ayah ibu. Semoga berhasil!!